Malam itu udara di teras kos-kosan terasa lengket. Suara jangkrik bersautan pelan, menemani pemandangan yang jauh lebih menyedihkan: dua orang dewasa menatap layar HP mereka dengan tatapan kosong layaknya orang yang baru kehilangan arah hidup.
Rizal menghela napas berat, jari telunjuknya masih bergelayut di atas layar ponsel. Di sampingnya, Dimas duduk lunglai dengan kepala mendek, rahangnya mengeras menahan geraham yang hampir copot.
Bayu: Sampe kapan lu nahan diri, Mas? Udah telan tiga ratus ribu. Turunin bet, kan.
Rizal: Lu kira gue nggak mau? Ini Mahjong Ways, Bay. Dia lagi main psikologis sama gue. Dikit lagi wild-nya keluar, berasa banget dia ngomong "sabar ya bro, nanti gue kasih." Tapi faktanya? Kering.
Dimas: Coba lu main Gates of Olympus, Riz. Lu baru ngalamin yang namanya zalim kalau udah ketemu Bapak Zeus yang lagi PMS.
Bayu tersenyum kecil, menaruh dua gelas kopi hitam pekat pakai gelas plastik bekas air mineral di depan dua sahabatnya itu, lalu duduk di teras nyelonong.
Bayu: Wah, ini kan konflik klasik. Perang antara pecinta batu bata dengan pecinta petir. Gue rasa malam ini kita bisa adakan pengadilan dadakan. Mana yang lebih kejam, mana yang paling manis. Gue jadi hakimnya.
Rizal: Oke, sini gue jelasin kenapa Mahjong itu jauh lebih kejam dari Zeus. Lu bayangin nggak, main mahjong itu kayak nunggu kereta di stasiun yang nggak pernah datang. Di base game, lu bisa putar seratus kali tanpa dapet scatter. Biasa aja? Eits, beda kalau di putaran ke-101 itu tiba-tiba muncul satu buah wild di tengah. Harapan lu langsung naik seratus persen. Lu merasa ini adalah tanda. Tapi apa yang terjadi? Wild itu cuma numpuk doang, nggak pecah, dan uang lu tetap amblas. Itu namanya sadis, dibuat melambat-lambat.
Dimas: Ah, itu kan cuma basa-basi. Kekejaman sejati tuh kalau lu udah dapat 4 scatter. Lu duduk tegak, jantung lu berdebar, lu udah bayangin uangnya buat bayar kos sampe tiga bulan ke depan. Tapi saat freespin dimulai... satu, dua, tiga putaran. NOL. Tidak ada satu pun petir yang nyentuh. Gue jamin, rasa hampa yang lu rasain saat itu lebih menyakitkan daripada ditinggal pacar di hari valentine. Zeus tuh tukang manipulasi. Dia kasih harapan palsu berupa 4 scatter, terus dia hukum lu di dalam freespin.
Bayu mengangguk-angguk, menikmati perdebatan ini. Katanya, kedua game itu juga punya sisi manis masing-masing. Dan tentu saja, Rizal dan Dimas langsung berebut cerita.
Dimas: Nah, kalau soal manis, Gates of Olympus itu juara abadi. Sensasional! Gue nggak ngarang, waktu gue dapat 5 scatter di bet dua ribu, lalu keluar petir kuning lima ratus kali lipat... bro, gue sampai nggak percaya sama mata gue. Uang tiba-tiba numpuk dalam hitungan detik. Nggak perlu proses lama, nggak perlu drama kecil-kecilan di base game. Zeus tuh kalau kasih, dia kasih langsung martabak. Itu yang bikin orang ketagihan. Manisnya tuh langsung nyepam ke otak.
Rizal: Lu salah, Dim. Manisnya Mahjong itu beda level. Kalau Zeus itu dapat karena kejutan, Mahjong itu dapat karena perjuangan. Itu artinya beda. Kalau lu bisa masuk ke mode freespin Mahjong, dan wild di tengah itu pecah terus-menerus, berubah jadi emas, dan multipliernya numpuk... rasanya itu seperti lu udah kerja lembur seminggu penuh dan gaji lu dibayar lipat tiga. Ada efek "aku pantas dapat ini" karena lu udah sabar banget nunggunya. Manisnya Mahjong itu legit, bukan cuma keberuntungan semata.
Bayu: Jadi intinya, Zeus tuh kasih gula instan tapi bisa bikin diabetes kalau salah makan, sedangkan Mahjong manisnya pelopor-pelopor, tapi lu kena diabetes dulu sebelum dapet gulanya?
Rizal dan Dimas saling pandang, lalu tertawa pelan. Keduanya sadar, ucapan Bayu itu terlalu kerasa untuk dijadikan bercanda.
Rizal: Bener juga lu, Bay.
Nah, biar nggak adu mulut terus, Bayu mengusulkan sistem penilaian. Tiga kriteria, skala satu sampai sepuluh, dinilai secara objektif—meski objektif di tengah malam buta ala tiga pemuda kos-kosan itu relatif-relatif saja.
Selisihnya tipis banget. Hanya setengah poin memisahkan kedua game yang sudah menghisap banyak jam tidur dan uang makan mereka. Ada keheningan yang menggantung setelah angka itu diucapkan. Keheningan yang terasa berat karena disadari atau tidak, angka-angka di atas adalah representasi dari uang asli yang pernah raup dari dompet mereka.
Bayu: Lu lihat nggak, total poin mereka hampir sama. Artinya apa? Artinya nggak ada yang lebih baik. Keduanya sama-sama zalim, sama-sama cuma ngasih manis-manis di awal biar lu kecanduan.
Rizal: Gue nggak pernah mikirin ini sebagai kerjaan, Bay. Tapi kadang... bener juga. Kita yang nyari sendiri.
Dimas: Iya. Tadi gue sempat ngomong Zeus tuh kasih gula instan. Tapi gue lupa, gula instan itu biasanya cuma bikin kita sakit perut setelahnya. Uang tiga ratus ribu tadi... gue nggak akan bisa balikin cuma karena nunggu petir kuning.
Bayu menghela napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan dan datar dari biasanya.
Bayu: Nah, ini yang harusnya jadi pelajaran buat kita bertiga. Kita sering sekali menganggap slot itu tempat cari hiburan, padahal ujung-ujungnya kita yang dihibur oleh ilusi. Mahjong memang terasa seperti perjuangan yang legit, Zeus memang terasa seperti jackpot mimpi. Tapi di balik layar itu semua, semuanya udah diatur. Mereka nggak pernah kalah, bro. Uang lu yang menang hari ini, udah gue jamin besok atau lusa bakal balik lagi, bahkan biasanya lipat dua. Itu bukan keberuntungan, itu sistem.
Rizal dan Dimas hanya terdiam. Tidak ada bantahan. Terlalu banyak bukti di riwayat transaksi mereka yang berbunyi minus.
Bayu: Malam ini, matikan HP kalian. Jangan diputer lagi. Kalau lu mau merasakan yang namanya "manis" tanpa harus merasakan yang "zalim," bangun pagi, beli kopi di warung pakai uang receh, dan nikmati paginya. Itu manisnya 100 persen, tanpa ada potongan pajak atau sistem yang nyuruh lu nambah bet.
Dimas: Kamu ini terlalu dewasa buat urusan slot, Bay.
Bayu: Bukan dewasa, mas. Gue cuma udah kapok. Gue nggak mau esok pagi gue bangun dan nanya, "kenapa gue nggak berhenti tadi malam?"
Rizal mengambil gelas plastiknya, meneguk sisa kopi hitam yang sudah dingin hingga habis. Rasanya pahit, tapi entah kenapa malam ini pahitnya terasa menyegarkan. Dia menekan tombol power di ponselnya. Layar redup, memutus koneksi dengan dunia batu bata yang selama ini membuatnya terjaga hingga subuh.
Rizal: Ya udah, tutup buku malam ini. Biarpun Mahjong atau Zeus, sebenarnya yang paling zalim itu kita sendiri. Zalim sama dompet kita sendiri.
Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam kamar, meninggalkan teras kos-kosan yang kembali sunyi. Suara jangkrik kembali terdengar jelas. Di malam itulah, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, tidak ada suara putaran slot yang mengiringi tidur mereka.
Dan untuk siapa saja yang sedang membaca ini—mungkin saat ini kamu juga sedang memegang ponsel, menatap layar dengan harapan scatter berikutnya akan mengubah nasibmu—ingatlah percakapan tiga pemuda di teras kos malam itu.
Slot tidak akan pernah berhenti memakan uangmu, tapi kamu punya kekuatan penuh untuk menghentikan jari-jarimu. Sesuatu yang manis memang menggoda, tapi jangan sampai kamu harus menelan kepahitan yang sangat dalam hanya karena tidak mau beranjak dari kursimu. Turunkan ponselmu, tarik napas panjang, dan tidurlah. Esok pagi masih ada kehidupan nyata yang menunggumu untuk dimenangkan.
