Psikologi di Balik Kecanduan Main Gates of Olympus dan Mahjong Ways, Kamu Termasuk Korban Berikutnya?
Suara hujan yang membasahi jakarta di sore itu rasanya sempurna untuk nongkrong di kedai kopi favorit kami. Aroma arabika yang baru digiling bercampur dengan dinginnya AC, menciptakan atmosfer yang bikin males bergerak dari sofa. Gue, Raka, dan Nisa sudah duduk di pojokan sejak jam tiga.
Tapi ada yang aneh hari ini. Biasanya Dimas jadi orang paling riuh di antara kami, tapi sejak tadi dia cuma manggut-manggut. Pandangannya tertuju ke layar HP, ibu jarinya mengetuk layar dengan ritme khas. Sesekali matanya menyipit, lalu menghela napas panjang. Layar ponselnya menyala dengan cahaya keemasan yang mencolok—logo Gates of Olympus.
"Nih, lo lagi nyari Zeus atau Zeus yang lagi nyari lo?" canda Nisa sambil menghentakkan gelas kopinya ke meja.
Dimas tersentak. "Waduh, hehe. Lagi santai aja ni, Nis. Coba-coba spin doang. Lagian kan cuma main receh, nggak ngaruh sama dompet," balasnya dengan senyuman kaku, langsung nyetel ulang taruhannya.
(Skor Dimas: 1 - Berhasil menggunakan kartu 'Cuma Iseng').
Raka yang dari tadi diam sambil mengaduk gula aren di kopinya, tiba-tiba tertawa pelan. Bunyinya mirip orang yang baru saja mendengar lelucon garing.
"Gue ngerti banget kalimat itu, Mas. Dulu gue juga ngomong persis kayak gitu," ucap Raka. Matanya menerawang, seolah tengah menatap sesuatu yang sudah lama berlalu. "Tapi beneran cuma iseng?"
Dahi Dimas sedikit berkerut. "Ya iyalah. Gue kan orang dewasa, Rak. Punya kontrol. Kalau udah rugi sedikit, gue langsung tutup aplikasi. Ini cuma cari hiburan murah daripada keluyuran."
Nisa menoyor lengan Dimas pelan. "Hiburan murah yang bikin lo dari jam dua nggak nurunin mata dari layar, sementara kopi lo udah dingin dari tadi."
(Skor Nisa: 1 - Jitu menyerang titik lemah).
"Jujur aja, Mas," Raka menyela, posisi badannya sedikit condong ke depan. "Gue dulu sempet terjebak lubang yang sama. Gue nggak mau ngomongin halus-halus soal ini. Gates of Olympus, Mahjong Ways, Starlight Princess—namanya beda-beda, tapi psikologinya? Sama persis."
Dimas akhirnya menaruh ponselnya layar menghadap ke bawah di meja. Dia tahu kalau Raka lagi serius. Raka memang dikenal sebagai orang yang sempat 'hilang' selama hampir setahun karena urusan ini sebelum akhirnya bangkit dan membenahi keuangannya.
"Coba gue jelasin kenapa lo susah banget berhenti dari game yang sebenernya cuma gambar bergerak ini," kata Raka mantap.
"Pertama, ini soal Dopamin. Banyak orang salah kaprah, ngira dopamin itu hormon kebahagiaan. Nggak juga. Dopamin itu hormon anticipation atau ekspektasi. Saat lo pencet tombol spin, otak lo bukan sedang menikmati kemenangan, tapi otak lo sedang dilumuri dopamin karena menunggu hasilnya. Itu sebabnya suara petirnya dibikin begitu 'merinding'. Itu trigger."
Nisa mengangguk-angguk. "Oalah, jadi bukan karena menangnya yang bikin nge-fly, tapi nungguin menangnya?"
"Bener banget," Raka menunjuk Nisa. "Nah, ini yang kedua. Game ini pakai sistem yang namanya Variable Ratio Schedule. Ini istilah psikologi yang dulu dipake buat nyari tahu kenapa tikus bisa ketagihan pencet tuas. Intinya, hadiahnya diberikan secara acak. Kadang dipencet sekali langsung keluar scatter, kadang pencet seratus kali nggak ada apa-apa."
(Skor Raka: 2 - Berhasil memasukkan teori psikologi berat tanpa mengongkos).
Dimas menghela napas, tangannya gelisah ingin menyentuh ponselnya lagi. "Iya sih, bener juga. Kadang gue udah depo seratus ribu, hilang semua. Pas mau nyerah, tiba-tiba di spin terakhir keluar scatter gratisan. Rasanya kayak... dikasih nyawa lagi."
"Nyawa lagi yang justru nanti bakal nyeret lo makin dalam," sambung Raka tajam. "Karena lo ngerasain itu, otak lo mencatat: 'Oh, jadi kalau hampir kalah, masih ada harapan'. Itu yang bikin lo balik lagi besok, lusa, dan seterusnya."
"Terus Mahjong Ways gimana, Rak?" tanya Nisa penasaran. "Kan beda pola, itu kan pakai tile atau ubin gitu."
"Oke, lo mau bahas Mahjong? Itu lebih kejam lagi secara psikologinya," Raka menyeruput kopinya. "Mahjong Ways memakai teknik Near Miss. Kalian pernah nggak sih, dapet dua batu emas di baris paling atas, cuma beda satu batu lagi buat nge-triger bonus besar? Nah, saat itu lo merasa 'Sial, hampir banget'. Di otak lo, hampir kalah itu dianggap sebagai hampir menang. Otak lo dikerjai. Lo merasa skill lo udah hampir perfect, cuma kurang beruntung aja. Padahal kan itu murni algoritma."
(Skor Raka: 3 - Critical hit pada mekanisme Mahjong Ways).
Dimas terdiam. Ekspresinya berubah. Senyum kaku tadi menghilang, digantikan oleh wajah yang sedikit pucat. "Tapi... kan gue nggak pakai uang makan buat main. Gue masih bayar kos tepat waktu," bisiknya, sebentar lagi membela dirinya sendiri.
(Skor Dimas: 0 - Argumen melemah drastis).
Raka menggeleng. "Itu yang paling bahaya, Mas. Kecanduan itu nggak selalu tentang lo sampai jual motor atau ngegituin orang tua. Kecanduan bentuk baru itu kebanyakan silent. Lo nggak bangkrut, tapi waktu lo habis. Fokus lo hilang. Tidur lo berantakan karena kepikiran 'kapan ya jam hoki gue'. Lo jadi kurang hadir di dunia nyata. Coba lo jujur, berapa kali minggu ini lo buka aplikasi itu?"
Dimas menghitung dalam hati. "Mungkin... delapan kali?"
"Dalam sehari atau seminggu?" tanya Nisa tajam.
"Sehari," jawab Dimas pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh suara blender di belakang kasir.
Momen itu membuat suasana jadi hening. Hujan di luar semakin deras, mengetuk-ngetuk kaca jendela kedai kopi. Raka lalu meletakkan tangannya di bahu Dimas, bukan dengan tatapan mengejek, tapi lebih ke arah empati.
"Gue ngomong ini bukan buat nghakimi lo, Mas. Gue ngomong karena gue udah ngerasain sendiri bagaimana rasanya jadi budak layar kecil 6 inci. Waktu itu gue sampe tidur jam empat pagi cuma buat nunggu pola gacor yang nggak pernah ada. Ujung-ujungnya, gue depresi sendiri. Lo tahu nggak kenapa game-game ini rata-rata temanya sejarah atau mitologi Yunawi, Kuno, China?"
Dimas menggeleng.
"Karena mereka mau bikin dunia fantasi yang terpisah dari realita lo. Waktu lo main Gates of Olympus, lo seolah-again masuk ke dunia lain di mana ada Dewa Zeus yang bisa ngasih lo uang sebanyak apapun hanya dengan pencet layar. Sedangkan di dunia nyata, gaji lo pas-pasan, kerjaan lo menumpuk. Jadi, saat lo kalah di dunia nyata, otak lo lari ke dunia fantasi itu sebagai pelarian. Itu namanya Escapism."
(Skor Raka: 5 - KO. Pukulan emosional dan logis yang telak).
Nisa menimpali, "Jadi intinya, kita bukan lagi yang mainin game, tapi game yang lagi mainin psikologi kita. Mereka hire orang pintar banget, programmer, psikolog, desainer suara, cuma buat bikin lo nyaman buang-buang uang dan waktu."
Dimas menatap ponselnya yang masih tergeletak di meja. Layarnya sudah mati, memantulkan wajahnya sendiri yang terlihat lelah. Tanpa dikomando, dia mengambil ponsel itu, membuka menu pengaturan, lalu dengan jari yang sedikit gemetar, menekan tombol Uninstall.
"Berat sih rasanya, tapi gue rasa gue butuh istirahat dari semua drama ini," ucap Dimas sambil menarik napas panjang layaknya orang yang baru saja kebeban berat.
Raka tersenyum lega. "Nggak usah dipaksakan berhenti total kalau emang belum bisa. Tapi coba deh, kali ini lihat berapa lama lo bisa bertahan. Gue yakin, setelah seminggu nggak main, lo bakal ngerasain kepala lo jauh lebih enteng. Waktu lo bakal terasa lebih panjang."
"Betul," sahut Nisa. "Uang receh lo tadi lebih enak dipake beliin gue cilok sama es teh manis daripada dibakar ke Zeus yang nggak ngerti rasa."
Dimas akhirnya tertawa. Tawa yang tulus, bukan tawa kaku seperti tadi sore. "Iya, iya. Gue traktir deh. Mumpung gue masih punya sisa receh yang nggak ke-spin."
Malam itu, setelah kami pulang dari kedai kopi, gue sempat memikirkan percakapan kami. Fenomena Gates of Olympus atau Mahjong Ways ini bukan sekadar tren game online. Ini adalah sebuah produk rancangan yang sangat cerdik, dirancang untuk mengeksploitasi kelemahan kognitif manusia. Mereka memang tidak memaksa kita untuk main, tapi mereka memasang jebakan psikologis di setiap sudut animasinya.
Skor akhir percakapan kami sore itu memang menang mutlak di tangan kesadaran, bukan di tangan algoritma. Tapi di luar sana, jutaan orang masih terjebak dalam ilusi bahwa mereka sedang bermain, padahal mereka sedang dimainkan.
Jadi, untuk kamu yang sedang membaca tulisan ini—mungkin sedang bersandar di kasur dengan layar ponsel yang masih menyala, mungkin baru saja kehilangan beberapa puluh atau ratusu ribu rupiah, atau mungkin sedang menunggu spin gratisan keluar—cobalah untuk sejenak menghentikan jarimu. Tarik napas yang dalam.
Zeus tidak akan pernah marah kalau kamu menutup aplikasinya. Mahjong tidak akan menuntutmu untuk menyelesaikan ubinnya hari ini. Tapi waktu hidupmu yang berjalan terus tanpa henti, dan detik-detik berharga yang kamu habiskan untuk menatap layar berharap keajaiban dari sebuah kode komputer... itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kamu tarik kembali. Kamu bukan korban berikutnya, kecuali kamu memilih untuk tetap diam di dalam sangkar itu. Selamatkan waktu dan uangmu, karena kemenangan sesungguhnya dimulai dari saat kamu memutuskan untuk tidak memulai spin itu sama sekali.